Google Cloud merilis GKE Agentic Migration, plugin open-source yang membantu tim memindahkan workload Kubernetes dari Amazon EKS ke Google Kubernetes Engine. Pengumuman pada 24 September 2026 ini menarik bukan karena AI kembali dipakai untuk menulis konfigurasi, melainkan karena Google menempatkan model di dalam alur migrasi yang dibatasi aturan, validasi, dan persetujuan manusia.

Migrasi antar-cloud bukan pekerjaan mencari-dan-mengganti nama layanan. Konfigurasi jaringan, identitas, ingress, storage, autoscaling, serta kebijakan organisasi sering memiliki padanan yang berbeda di setiap platform. Google menyebut penggunaan LLM dengan prompt umum dapat menghasilkan konfigurasi yang terlihat masuk akal tetapi mengandung resource yang tidak ada, API yang sudah deprecated, atau aturan keamanan yang hilang. Kesalahan semacam itu baru terlihat setelah engineer menghabiskan waktu untuk mengaudit dan memperbaikinya.

GKE Agentic Migration mencoba memisahkan pekerjaan yang membutuhkan penalaran dari pekerjaan yang harus konsisten dan dapat diaudit. LLM digunakan untuk membaca infrastructure-as-code, memahami hubungan antarkomponen, lalu menyusun Terraform, manifest Kubernetes, dan dokumentasi migrasi. Di sisi lain, server MCP lokal menjalankan transformasi deterministik untuk pemetaan yang lebih pasti, seperti anotasi Workload Identity dan registry image. Hasil generasi AI kemudian melewati pemeriksaan seperti terraform validate, kontrak struktur manifest, dan output contract sebelum dapat diajukan ke pengguna.

## Tidak langsung mengubah cluster produksi

Batas terpentingnya ada pada cara perubahan dikirim. Plugin ini tidak menjalankan terraform apply dan tidak menulis langsung ke cluster target. Ia membaca sumber konfigurasi, membuat target state, menjalankan validasi offline, lalu membuka pull request di repository milik tim. Dengan begitu, hasil migrasi tetap melewati pipeline CI/CD, code review, dan mekanisme rollback yang sudah digunakan organisasi.

Pilihan tersebut juga menjawab masalah ClickOps, istilah untuk perubahan infrastruktur yang dilakukan langsung lewat dashboard atau API tanpa melewati sumber kebenaran berbasis Git. Cara kerja seperti itu mungkin terasa cepat pada awalnya, tetapi dapat memutus jejak perubahan dan membuat pemulihan lebih sulit. Dalam desain Google, agent membantu menyiapkan perubahan; repository dan proses review tetap menjadi tempat keputusan akhir.

Plugin ini menangani beberapa perbedaan khas antara EKS dan GKE. AWS IAM Roles for Service Accounts dapat diterjemahkan ke Workload Identity Federation untuk GKE. Ingress berbasis AWS Application Load Balancer dipetakan ke Gateway API. Klaim node dari Karpenter dapat diarahkan ke Node Auto Provisioning atau Custom Compute Classes di GKE. Pemetaan itu tetap bukan jaminan bahwa aplikasi akan berjalan tanpa penyesuaian, tetapi setidaknya pekerjaan yang berulang memiliki jalur yang lebih eksplisit daripada prompt satu kali.

## Migrasi dibuat sebagai pekerjaan tim

Google juga memasukkan state management dan pemisahan peran ke dalam alur. Migration state graph meneruskan konteks dari tahap discovery, penilaian blocker, desain landing zone, translasi, hingga pembukaan pull request. Platform engineer dapat menyiapkan jaringan, cluster, kebijakan organisasi, dan keputusan seperti GKE Autopilot atau GKE Standard. App developer kemudian mengerjakan workload tertentu dari ruang kerja yang dibatasi.

Di repository resminya, Google menjelaskan bahwa state durable disimpan dalam ledger di Google Cloud Storage. Tidak ada hosted control plane yang harus dikelola tim, dan plugin tidak diposisikan sebagai CLI mandiri. Ia dijalankan melalui agent harness yang didukung, dengan MCP server lokal untuk operasi yang perlu bersifat deterministik dan dapat diaudit. Repository tersebut juga menyebut bahwa setiap peran hanya melihat folder yang sesuai dengan batas aksesnya.

Pembagian ini penting karena migrasi besar jarang selesai dalam satu sesi. Platform team mungkin menyelesaikan landing zone lebih dulu, sementara pemilik aplikasi menunggu keputusan tentang gateway, identitas, atau storage. Jika konteks hanya hidup di percakapan dengan agent, handoff mudah kehilangan detail. State ledger dan blocker yang memiliki pemilik serta target penyelesaian memberi migrasi bentuk kerja yang lebih mirip proyek engineering daripada sesi chat panjang.

## AI tetap bukan pengganti review

GKE Agentic Migration masih berada dalam public preview dan berasal dari Google Cloud, sehingga klaim tentang pengurangan risiko dan percepatan sebaiknya dibaca sebagai klaim vendor, bukan hasil evaluasi independen. Open-source juga tidak otomatis membuat hasil migrasi benar. Tim tetap perlu memeriksa akses IAM, konfigurasi jaringan, secret, penyimpanan stateful, observability, biaya, dan perilaku aplikasi setelah deployment.

Batas scope-nya justru memperjelas posisi alat ini. Plugin berfokus pada objek Kubernetes, Helm, Kustomize, Terraform, jaringan, identitas, dan sebagian storage. Database terkelola seperti RDS, ElastiCache, S3, atau Secrets Manager tidak dipindahkan begitu saja. Untuk komponen tersebut, plugin menghasilkan runbook yang mengarahkan tim ke layanan migrasi khusus, seperti Database Migration Service atau Storage Transfer Service. Data stateful tetap diperlakukan sebagai pekerjaan dengan risiko dan kebutuhan operasional tersendiri.

Bagi platform engineer, nilai utama GKE Agentic Migration bukan janji bahwa satu agent dapat memindahkan seluruh estate tanpa pengawasan. Nilainya lebih sederhana: pekerjaan translasi yang berulang diletakkan di dalam pipeline yang punya state, pemeriksaan deterministik, batas peran, dan jalur review yang jelas. AI boleh membantu menulis perubahan, tetapi perubahan itu belum dianggap siap hanya karena sintaksnya terlihat benar.

Pendekatan tersebut memberi gambaran yang lebih sehat tentang penggunaan agent untuk infrastruktur. Untuk kode aplikasi, kesalahan masih dapat ditemukan lewat test dan review. Untuk konfigurasi cloud, kesalahan kecil dapat memutus jaringan, memperluas hak akses, atau membuat layanan gagal saat dibutuhkan. Karena itu, agent yang baik bukan yang paling bebas bertindak, melainkan yang tahu kapan harus berhenti dan menyerahkan keputusan kepada manusia.

Sumber utama: - Google Cloud Blog, “Introducing GKE agentic migration for AI-assisted EKS-to-GKE migrations with built-in governance” (24 September 2026): https://cloud.google.com/blog/products/containers-kubernetes/gke-agentic-migration

Sumber tambahan: - Google Cloud, “What’s new with Google Cloud” (25 September 2026): https://cloud.google.com/blog/topics/inside-google-cloud/whats-new-google-cloud - GitHub, repository gke-labs/gke-agentic-migration: https://github.com/gke-labs/gke-agentic-migration