Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) resmi menerbitkan permintaan informasi (Request for Information/RFI) kepada industri komersial global untuk menjajaki misi penyelamatan Teleskop Luar Angkasa Hubble. Dokumen berkode 80GSFC27RFIHSTS yang dirilis melalui Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard pada 29 Oktober 2026 ini membuka pintu bagi perusahaan antariksa swasta untuk mengajukan proposal teknis sebelum Hubble kehilangan ketinggian dan terbakar di atmosfer Bumi.
NASA memberikan tenggat waktu hingga 30 November 2026 pukul 15.00 waktu pesisir timur AS bagi penyedia wahana antariksa komersial untuk menyerahkan rancangan misi mereka. RFI tersebut mencakup tiga opsi utama: menaikkan ketinggian orbit Hubble (reboost) ke minimal 600 kilometer, melakukan misi perbaikan dan pemeliharaan instrumen di orbit untuk memperpanjang usia sainsnya, atau memandu teleskop melakukan deorbit terkendali ke laut lepas bila perbaikan dinilai tidak memungkinkan.
Sejak diluncurkan pada April 1990 menggunakan Pesawat Ulang-Alik Discovery, Hubble beroperasi tanpa mesin propulsi internal. Posisi teleskop di orbit rendah Bumi (LEO) membuatnya terus mengalami gaya hambat atmosfer (atmospheric drag) tipis yang mengikis ketinggiannya hari demi hari. Ketinggian Hubble kini berada di kisaran 470 kilometer di atas permukaan laut, merosot tajam dari titik tertingginya pada 2002 saat Pesawat Ulang-Alik Columbia mendorongnya ke ketinggian 583 kilometer.
Perhitungan dinamika orbital NASA Goddard pada Juli 2026 menunjukkan batas kritis waktu yang kian sempit. Lembaga tersebut memproyeksikan ada probabilitas 10 persen Hubble akan mengalami re-entry tak terkendali pada September 2032, dan probabilitas itu melonjak menjadi 50 persen pada Desember 2033. Fluktuasi aktivitas badai matahari berpotensi mempercepat proses peluruhan orbit ini. Oleh karena itu, NASA menetapkan bahwa setiap misi intervensi komersial harus siap dieksekusi paling lambat pada tahun 2032.
RFI ini menandai perubahan sikap penting di markas besar NASA. Pada 2022, NASA sempat mengadakan kajian serupa bersama konsorsium swasta termasuk SpaceX dan program Polaris, serta mempelajari respons dari Astroscale dan Momentus. Namun, pada awal 2024, para pejabat sains NASA menunda inisiatif tersebut karena menilai kesiapan teknis penambatan otonom ke instrumen rapuh seperti Hubble masih terlalu dini dan berisiko tinggi.
Kini lanskap robotika dan layanan di orbit (in-space servicing, assembly, and manufacturing atau ISAM) bergerak cepat. Berbagai demonstrasi penambatan satelit komersial, misi uji transfer bahan bakar, hingga misi robotik Northrop Grumman bersama DARPA telah membuktikan bahwa wahana nirawak dapat mencegat dan mengendalikan satelit lama secara presisi. Langkah NASA membuka kembali penjajakan Hubble memperlihatkan keterbukaan baru terhadap kapabilitas industri swasta yang makin matang.
Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan bahwa selama sebuah instrumen sains di orbit masih dapat menghasilkan terobosan berharga, eksplorasi terhadap seluruh metode penyelamatan yang rasional merupakan kewajiban lembaga. Isaacman mencatat bahwa Hubble masih menghadapi permintaan waktu observasi astronomi global yang sangat tinggi, melampaui kapasitas jadwal hingga tujuh kali lipat (oversubscription rate 7:1) dan menghasilkan lebih dari seribu publikasi ilmiah setiap tahun.
Secara teknis, Hubble menyajikan tantangan rekayasa yang sangat unik bagi kontraktor swasta. Teleskop ini dirancang pada era 1980-an untuk diservis secara manual oleh tangan astronaut dan lengan mekanik Canadarm di dalam teluk kargo pesawat ulang-alik. Wahana komersial modern yang ingin menaikkan orbit Hubble harus mampu mendekat secara otonom, mengunci struktur cincin penambat (scuff ring) di bagian buritan tanpa menabrak panel surya atau antena gain tinggi, lalu menyalakan pendorong tanpa memicu getaran keras yang dapat merusak optik primer selebar 2,4 meter.
Kebutuhan menjaga kelangsungan hidup Hubble bukan sekadar masalah sentimentalitas sejarah. Hubble tetap menjadi satu-satunya fasilitas pengamatan luar angkasa milik umat manusia yang memadukan kepekaan tajam spektrum ultraviolet dan cahaya tampak. Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) berfokus pada spektrum inframerah, sedangkan teleskop Nancy Grace Roman yang dijadwalkan meluncur beberapa tahun mendatang dirancang untuk survei medan lebar. Observatorium penerus optik dan ultraviolet generasi berikutnya, Habitable Worlds Observatory (HWO), baru ditargetkan beroperasi paling cepat sekitar tahun 2040. Jika Hubble musnah pada 2033, astronomi dunia akan menghadapi kekosongan data ultraviolet dan optik beresolusi tinggi selama setidaknya tujuh tahun.
Meski demikian, NASA secara eksplisit menegaskan bahwa penerbitan RFI ini murni merupakan riset pasar dan bukan jaminan kontrak pengadaan (RFP). Lembaga belum mengalokasikan anggaran khusus dari Kongres AS untuk misi penyelamatan Hubble. Pemenang konsep yang terpilih nantinya dituntut menyediakan seluruh kebutuhan operasional secara mandiri, mulai dari roket peluncur, wahana servis, lisensi frekuensi, hingga sistem pemandu darat, sementara NASA hanya akan menyediakan data teknis dan konsultasi rekayasa.
Bila ada perusahaan swasta yang berhasil membuktikan kelayakan teknis dan efisiensi biaya sebelum batas akhir November, misi penyelamatan Hubble berpotensi menjadi tonggak bersejarah bagi komersialisasi pemeliharaan infrastruktur antariksa. Keberhasilan menaikkan kembali orbit teleskop ke 600 kilometer akan memberi Hubble napas tambahan hingga 25 tahun, memperpanjang masa pengamatan benda-benda terjauh semesta hingga paruh kedua abad ke-21.