OpenAI mengungkap dua operasi pengaruh terselubung yang memakai ChatGPT bersama teknik propaganda lama untuk menyebarkan pesan geopolitik. Dalam laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, perusahaan itu menyebut satu operasi terkait Rusia dan satu lagi terkait Iran. Keduanya menggunakan identitas, organisasi, atau byline palsu agar pesan mereka terlihat datang dari sumber lokal atau media yang independen.

Laporan ini bukan klaim bahwa semua konten dalam operasi tersebut dibuat oleh AI. OpenAI justru menggambarkan model sebagai bagian dari alur kerja yang lebih besar: menyusun laporan internal, memperhalus artikel, menerjemahkan naskah, menulis komentar, dan menyiapkan materi untuk dikirim ke editor. Sebagian cerita yang diklaim oleh operator tidak dapat diverifikasi secara terbuka. OpenAI juga mengakui bahwa laporan internal para pelaku kadang melebih-lebihkan keberhasilan mereka.

“False front” bukan taktik baru

Istilah false front merujuk pada organisasi atau identitas yang tampak sah, tetapi sebenarnya dikendalikan oleh aktor lain yang menyembunyikan kepentingan dan asal-usulnya. Pola ini sudah lama digunakan dalam operasi pengaruh. Bedanya, AI membuat beberapa pekerjaan di belakang layar menjadi lebih cepat, murah, dan mudah disesuaikan dengan bahasa atau gaya lokal.

OpenAI membandingkan temuan terbarunya dengan operasi lama seperti PeaceData, jaringan “media” yang dibongkar Meta pada 2020. Dalam kasus tersebut, orang-orang yang tidak mengetahui hubungan sebenarnya dengan operator Rusia direkrut untuk menulis artikel. Meta mencatat bahwa jaringan itu membuat halaman yang menyamar sebagai entitas berita dan menipu jurnalis lepas agar ikut menulis.

Konteks ini penting karena AI bukan satu-satunya alasan sebuah operasi bisa menjangkau audiens. Keberhasilan tetap bergantung pada infrastruktur identitas, orang yang bersedia bekerja tanpa mengetahui sponsor sebenarnya, editor yang menerima pitch, serta platform yang membantu distribusi. Model dapat membantu mempercepat proses, tetapi tidak otomatis menciptakan kepercayaan dari nol.

Operasi Rusia membangun “pusat riset” palsu

Operasi yang dijuluki Dark Clark oleh OpenAI berpusat pada Social Research Center, sebuah platform yang mengaku melakukan riset tentang diaspora India di Amerika Latin dan hubungan antarnegara di kawasan tersebut. Menurut laporan OpenAI, operator Rusia tampaknya mengendalikan organisasi itu melalui persona palsu bernama Mia Clark. Karyawan lokal yang diwawancarai atau mengerjakan riset diduga tidak mengetahui bahwa mereka bekerja untuk kelompok Rusia.

ChatGPT paling sering digunakan untuk membuat dan memperbarui laporan internal tentang kampanye tersebut. Operator juga meminta model menerjemahkan atau menjelaskan laporan publik tentang jaringan Politology dan Wagner, serta membantu membuat sejumlah materi palsu. OpenAI mengatakan mereka menemukan lebih dari 60 artikel di situs Social Research Center, dan sebagian besar tampak sebagai tulisan orisinal.

Beberapa contoh yang disebut dalam laporan berkaitan dengan Amerika Latin. Operator mengklaim menyebarkan audio palsu, surat palsu, dan cerita yang menargetkan Ukraina atau politik lokal di Peru, Ekuador, Bolivia, dan Argentina. Riset sumber terbuka menemukan sejumlah konten atau fact-check yang cocok dengan klaim tersebut, tetapi tidak semua contoh dapat dipastikan. OpenAI menilai operasi ini berada di Category 5 pada Breakout Scale, terutama karena beberapa narasinya tampak masuk ke pemberitaan dan memicu respons publik atau pejabat.

Operasi Iran memakai tujuh persona wartawan

Operasi kedua, yang disebut Bogus Bylines, menggunakan tujuh persona “wartawan” untuk menawarkan artikel panjang kepada media daring kecil dan menengah di berbagai negara. Para persona itu memiliki biografi yang menggambarkan mereka sebagai jurnalis Barat, penulis lepas, atau pengamat isu internasional. OpenAI mengatakan hampir 100 artikel yang terbit atau disindikasikan dapat ditelusuri ke byline tersebut, tersebar di sekitar selusin outlet.

Dalam alur ini, ChatGPT dipakai untuk meninjau naskah, menyesuaikannya dengan kriteria outlet, menyusun email pitch, dan memperhalus komentar media sosial. Topiknya banyak berkaitan dengan konflik Amerika Serikat dan Iran. Operator juga membuat komentar dalam bahasa Inggris dan Persia untuk merespons unggahan, termasuk unggahan yang mempromosikan artikel mereka sendiri.

Dampaknya tidak seragam. OpenAI menilai komentar media sosial yang dapat ditemukan umumnya mendapat interaksi rendah dan hanya menjadi sebagian kecil dari percakapan. Sebaliknya, artikel dengan byline palsu berhasil masuk ke sejumlah outlet dengan audiens besar. Perusahaan menempatkan bagian operasi artikel ini pada Category 4, karena kontennya menembus media arus utama atau outlet yang punya jangkauan lintas platform.

Titik lemahnya ada di rantai kepercayaan

Laporan OpenAI memperlihatkan bahwa pertahanan terhadap propaganda AI tidak cukup berhenti pada deteksi teks atau gambar buatan model. Masalah utamanya berada di rantai kepercayaan: siapa yang mengendalikan organisasi, siapa yang menulis dengan nama tertentu, dari mana sebuah pitch datang, dan apakah outlet memeriksa hubungan antara penulis, akun sosial, serta entitas yang mereka wakili.

Bagi redaksi, konsekuensinya praktis. Artikel dengan bahasa yang rapi bukan berarti sumbernya jelas. Profil wartawan yang terlihat lengkap belum membuktikan identitasnya. Sebuah think tank dengan banyak tulisan juga tidak otomatis independen. Pemeriksaan asal-usul byline, konflik kepentingan, pola publikasi, metadata akun, dan konfirmasi langsung dengan narasumber menjadi lebih penting ketika biaya produksi konten turun.

OpenAI menyebut dua operasi ini telah diblokir dan informasinya dibagikan kepada pihak berwenang atau mitra industri. Namun perusahaan juga menekankan bahwa ukuran dampak harus dibaca hati-hati. Operator kadang mengambil kredit atas kejadian yang sebenarnya tidak mereka sebabkan, sementara sebagian konten mungkin sudah dihapus atau tidak pernah menyebar luas. Jadi, laporan ini lebih kuat sebagai peta cara kerja dan titik serang daripada sebagai pengukuran final tentang seberapa besar pengaruh masing-masing kampanye.

Pelajaran terbesarnya sederhana: AI tidak menggantikan operasi pengaruh, tetapi mengurangi gesekan di beberapa tahap penting. Ia membantu menulis, menerjemahkan, mengemas, dan mengulang pesan. Sisanya masih bergantung pada manusia, organisasi palsu, media yang terbuka, dan pembaca yang tidak punya cukup informasi untuk memeriksa siapa yang sebenarnya berbicara.

Sumber - OpenAI, “Disrupting AI-enabled ‘false front’ operations” (8 Oktober 2026): https://openai.com/index/disrupting-ai-enabled-false-front-operations/

Sumber tambahan: - Meta, “August 2020 Coordinated Inauthentic Behavior Report” (1 September 2020): https://about.fb.com/news/2020/09/august-2020-cib-report/ - Brookings, “The Breakout Scale: Measuring the impact of influence operations” (September 2020): https://www.brookings.edu/articles/the-breakout-scale-measuring-the-impact-of-influence-operations/